“Waktu Yang Utama Untuk Shalat Isya” ketegori Muslim.
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Ustadz yang dirahmati Allah SWT, ada beberapa hadits shahih
yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW lebih mengutamakan pelaksanaan Shalat Isya
di akhir waktu bahkan beliau ingin sekali menyarankan ummatnya untuk
melaksanakannya, jika beliau tidak khawatir disalah-artikan menjadi perintah .
Dalam beberapa hadits beliau juga kita mengetahui beberapa keutamaan shalat
berjama’ah, yakni 27 derajat lebih tinggi dibanding shalat sendiri, mewajibkan
orang buta untuk tetap shalat berjama’ah di masjid meskipun tidak punya
penuntun, bahkan beliau berniat membakar rumah orang-orang yang malas shalat
berjama’ah di masjid. Dalam Shirah Nabawiyah diberitakan pula beliau hampir tidak
pernah meninggalkan shalat berjama’ah sampai akhir hayat beliau.
Nah, yang ingin saya tanyakan, apa kaitan keutamaan sholat
Isya di akhir waktu dengan sholat berjama’ah di masjid itu? Apa maksudnya di
zaman Rasulullah SAW. shalat jamaahnya itu memang dilakukan di akhir waktu?
Padahal shalat berjama’ah zaman sekarang umumnya dilaksanakan di awal waktu.
Apakah maksudnya jika kita sholat sendirian di rumah karena punya uzur syar’i
boleh/disunahkan untuk diakhirkan? Jazakallah atas penjelasan Ustadz.
WAssalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Nana Sudiana
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh,Alhamdulillah
wash-shalatu wassalamu ‘ala rsulillah, wa ba’du
Waktu Isya’ secara fiqih dimulai sejak berakhirnya waktu
Maghrib sepanjang malam hingga dini hari tatkala fajar shadiq terbit. Dasarnya
adalah ketetapan dari nash yang menyebutkan bahwa setiap waktu shalat itu
memanjang dari berakhirnya waktu shalat sebelumnya hingga masuknya waktu shalat
berikutnya, kecuali shalat shubuh.
Dari Abi Qatadah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah
tidur itu menjadi tafrith, namun tafrith itu bagi orang yang belum shalat
hingga datang waktu shalat berikutnya.
Sedangkan waktu mukhtar untuk shalat `Isya` adalah sejak
masuk waktu hingga 1/3 malam atau tengah malam. Atas dasar hadits berikut ini.
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,
Seandainya aku tidak memberatkan umatku, aku perintahkan mereka untuk
mengakhirkan / menunda shalat Isya` hingga 1/3 malam atau setengahnya. .
Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah SAW menunda shalat
Isya` hingga tengah malam, kemudian barulah beliau shalat . .
Dari Aisyah ra.: ”Rasulullah SAW mengakhirkan shalat Isya‘
pada suatu malam hingga melewati malam dan penduduk Madinah terlelap. Kemudian
keluar dan beliau bersabda,”Inilah waktunya , bila tidak memberatkan ummatku.”
Juga hadist lainnya:
Dari Jabir ra berakata, . . Dan Rasulullah SAW melakukan
shalat isya‘ terkadang diakhirkan dan terkadang di awalnya. Bila beliau melihat
jamaah telah berkumpul, maka isya‘ dipercepat dan bila mereka datang lebih lambat,
maka shalat Isya diakhirkan. . .
.
.
Namun sebaiknya bila melakukan shalat Isya‘ tengah malam
tidak dengan tidur terlbih dahulu.
Dari Abi Barzah al-aslami bahwa Rasulullah SAW suka
mengakhirkan Isya‘ yang disebutnya ‘atmah, namun beliau tidak suka tidur
sebelumnya atau bercakap-cakap sesudahnya. .
Dengan adanya dalil-dalil di atas, para ulama menyimpulkan
bahwa khusus untuk shalat ‘Isya, memang tidak selalu dikerjakan di awal waktu.
Namun seringkali Rasulullah SAW dan para shahabat mengerjakajannya agak sedikit
lebih malam. Namun tetap dilakukan di masjid secara berjamaah. Bukan shalat
sendiri-sendiri di rumah. Dan tentu saja dengan tetap melantunkan adzan yang
berfurngsi sebagai panggilan kepada umat Islam untuk berkumpul, meski tidak
dilantunkan di awal waktu.
Penundaan pelaksanaan shalat terurama untuk shalat isya’
berjamaah ini tidak menyalahi keutamaan, sebab keutamaan itu sendiri datangnya
dari Rasulullah SAW juga. Sebab syariat Islami itu sumbernya dari beliau juga
dan beliau tentu dari Allah SWT. Maka kalau kita sekarang ini menjalankan hal
yang sebagaimana beliau SAW lakukan, tentu saja punya nilai tersendiri. Dan
memang demikianlah Rasulullah SAW mengajarkan agama kepada kita.
Wallahu a’lam bish-shawabWassalamu ‘alaikum warahmatullahi
wa barakatuh
