Wednesday, February 22, 2012

Bagaimana Amal Ibadah Yang Ikhlas itu ???

Bismillaahirrahmaanirraahiim

            Saudaraku, sidang pembaca yang berbahagia. Pengertian ikhlas menurut bahasa artinya tulus hatihati yang bersih. Sementara menurut istilah Ikhlas itu artinya yaitu melakukan sesuatu pekerjaanmelakukan sesuatu perbuatan dengan tulus hati dan semata-mata mengharap ridho Allah SWT. atau atau
Perhatikan firman Allah SWT yang termaktub di dalam kitab suci Al-Qur’an :




            Seorang mukmin dalam beramal hendaknya hanya semata-mata mengharap keridhoan-Nya. Apabila dalam amalnya ada motif lain, misalnya karena kebanggaan, ingin dipuji atau mencari popularitas maka amal tersebut termasuk riya’. Riya’ adalah syirik yang sifatnya halus. Suatu amal yang tidak dilandasi niat ikhlas pada hakikatnya menipu diri sendiri ataupun berdusta. Jika seseorang beramal tidak ikhlas maka tidak mendapatkan hasil yang diharapkan, bahkan tercecer ditengah jalan. Seperti diumpamakan seorang petani yang tidak menuai hasil panennya karena puso, gabuk atau padinya dimakan wereng. Di dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai banyak orang beramal, namun sulit untuk diketahui dan dibedakan apakah amal itu termasuk ikhlas atau riya’. Tidak sedikit suatu amal yang lahiriahnya baik tetapi merupakan racun. Contohnya adalah upaya orang Yahudi untuk memecah-belah kaum muslimin di Madinah dengan mendirikan Masjid Ad-Dirrar. Tujuannya untuk menandingi Masjid yang syah. Lalu Rasulullah SAW memerintahkan untuk menghancurkan Masjid tersebut. Mengapa demikian ? Oleh karena tujuan pendirian masjid tersebut memang untuk memecah belah persatuan dan kesatuan umat, sedangkan memecah belah persatuan dan kesatuan umat dipandang sebagai suatu kejahatan. Hal ini memang berat karena setiap pekerjaan manusia pada umumnya adalah dorongan untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat dan mengharapkan pujian serta menolak cacian. Seorang muslim yang sungguh-sungguh dalam beramal akan melakukan sesuatu yang diridhoi Allah (Mardhatillah). Pengakuan yang ia cari adalah pengakuan dari Allah. Hanya amal ibadah dengan mencari keridhoan Allah semata yang dapat mendatangkan kebahagiaan. Allah SWT dalam menilai seseorang bukan dari penampakan lahiriahnya saja ataupun status social dan ekonomi orang tersebut, melainkan dari keikhlasannya.









            Dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dikemukakan sebagai berikut : “Ada 3 (tiga) orang pemuda yang terjebak (terkurung) dalam sebuah Goa. Mereka berusaha sekuat tenaga dengan segala kemampuannya untuk mendorong batu yang menutupi Goa tersebut, tetapi batu itu tidak bergeser sedikit pun, sia-sia usaha mereka. Mereka menyadari bahwa tidaklah mungkin keluar dari Goa tersebut, kecuali dengan pertolongan Allah. Setelah itu, mereka berdo’a. Di dalam do’a mereka menyatakan kebaikan masing-masing yang pernah dilakukannya dengan ikhlas. Pemuda pertama, menyatakan dalam do’anya bahwa ia telah berbuat bakti kepada kedua orang tuanya dengan ikhlas. Jika Allah ridho akan perbuatannya, maka berilah pertolongan agar ia bisa keluar dari Goa tersebut. Setelah ia selesai berdo’a maka bergeserlah batu tersebut tetapi mereka belum bisa keluar. Pemuda kedua, menyatakan dalam do’anya bahwa ia mencintai anak pamannya yang cantik jelita da ia memperoleh kesempatan untuk melakukan kemasiatan. Namun, ia tidak melakukannya, ikhlas menjauhi larangan Allah SWT. Jika Allah meridhoinya ia mohon agar mereka dapat keluar dari Goa tersebut. Begitu selesai berdo’a lalu bergeserlah batu tersebut lebih besar, tetapi mereka belum dapat keluar. Pemuda ketiga, menyatakan dalam do’anya bahwa ia mempunyai pegawai (buruh) yang sudah lama tidak datang, padahal upahnya (gajinya) belum diambil. Lalu upah tersebut ia belikan seekor kambing dan kambing tersebut berkembang biak. Beberapa tahun kemudian buruh tersebut datang untuk meminta upahnya lalu kutunjukkan kambing-kambing tersebut dan aku berikan semua kepadanya. Jika Allah meridhoinya (perbuatan tersebut) maka selamatkanlah dan keluarkanlah kami dari Goa tersebut. Setelah selesai berdo’a batu itu pun bergeser lebih lebar lagi sehingga mereka terbebas dan dapat keluar dari Goa tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)










*Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku : Pendidikan Agama Islam. Oleh : Ahmad Syafi-ei Mufid, M. A, dkk*
 

HUBUNGI :

Contact Form

Powered byEMF Web Form
Report Abuse